Apa sih yang membuat lagu enak didengar? Diskusi sistem audio digital.

Artikel ini adalah repost dari artikel yang saya tulis di tanyajawab.headfoniastore.com.

Hari ini ada pertanyaan dari Stefanus Adit di Headfonia Store TV yang saya rasa boleh kita diskusikan rame2. Berikut quote langsung dari bro Adit:

bang mike, kalo boleh sedikit out of topic kasi video tentang penjelasan mengenai apa sih yg membuat lagu jadi enak didengar, headphone atau dapnya? trus apakah harus selalu ndengerin file flac apa alac biar headphone ngeluarin tajinya? thx

Ini sebetulnya lebih enak dijawab di format video, karena bisa gambar sketsa ilustrasi dan kasih contoh langsung. Dan kita memang ada rencana untuk mulai bikin video YouTube berisi pertanyaan2 diskusi yang masuk ke TanyaJawab. Cuman untuk saat ini coba kita bahas disini dulu sebisanya.

Pertama kita mesti melihat audio chain secara keseluruhan:

  1. Proses produksi:
    1. Recording > Mixing > Mastering
  2. Proses reproduksi: Media file (.WAV, .MP3, .FLAC, dll) > Transport > DAC > Amplifier > Headphone

Hari ini saya akan coba ngomong sedikit tentang bagian Mastering (dari sudut pandang konsumen, bukan audio engineer), Media File, dan Transport.

PRODUKSI: MASTERING
Dibagian proses produksi kita sih cuman terima jadi aja, cuman yang harus dimengerti disini sebetulnya proses Mastering bisa ada beberapa versi yang berbeda tergantung kita beli lagunya dimana.

Kalau CD misalnya, beda region produksi, misalnya CD yang dijual di pasaran Indonesia, biasanya buatan Indonesia, beda ama CD yg dijual di Jerman, apa di Jepang. Masteringnya beda2. CD di Indonesia cenderung lebih bright dan cempreng. Yang favorit saya CD yang dijual di Jepang (produksi Jepang), paling full bodied dan layeringnya superior. Tapi akhir2ini ini saya juga suka sekali file2nya Itunes Store, masteringnya rata2 bagus sekali dan bahkan bisa lebih lively hasilnya (walaupun kalah smooth), dibanding CD produksi Jepang, walaupun cuman dengan format AAC. Silahkan dicoba. 🙂

Selanjutnya kita ngomong format file lagu.

REPRODUKSI: MEDIA FILE
Saya pribadi rasa WAV filenya paling full bodied dan paling smooth. AIFF relatif lebih bright dari WAV, boleh dicoba kalo sistem anda terasa terlalu dark. .FLAC agak kering jadi saya kurang suka, sedangkan MP3 dan AAC paling kasar. Saya jarang pake ALAC dan OGG, jadi gak bisa komentar. Overall perbedaan dari file format ini sangat amat teramat kecil, sehingga banyak orang sampe suhu2 dedengkot kalo disuruh blind test MP3 320kbs ama WAV sebetulnya gak bisa bedain juga (true story!). Jadi rata2 orang pake file uncompressed itu cuman untuk “guarantee” dan “warm fuzzy feeling”.

Jauh lebih penting dapetin copy mastering yang bagus dibandingkan mikirin file format. Belakangan ini kalo saya beli lagu di Itunes Store, file AAC, tapi dapet mastering yang bagus, file itu saya pake kemana2 dari di smartphone saya sampe buat player audiophile yang sekelas Fiio, Ibasso, atau Astell & Kern. Dicolok ke player, amp, dan headphone yang bagus, AAC ini sebetulnya sudah bisa bikin suara reference class… gak perlu 24/96 apalagi DSD. Tentu saja industry record labels ngomongnya beda, supaya bisa jualan file hi-res. Memang 24/96 atau DSD efek, cuman efeknya gak sebegitu besar sih di overall system chain. Asal racikan systemnya bener, masteringnya bagus,  playing lagu AAC bisa lebih bagus hasilnya daripada playing DSD yang sinergy sistemnya nggak dapet.

REPRODUKSI: TRANSPORT (HARDWARE)
Definisi Transport disini adalah sistem yang mengolah dari file media lalu dirubah menjadi signal digital untuk dikirimkan ke DAC. Jaman dulu, transport ini rata2 pake CD transport, lalu ada digital out nya untuk dikirim ke DAC. Jaman sekarang, Transport ini bisa jadi Laptop + software, atau Smartphone + software, atau Digital Audio Player.

Secara teori sih beda hardware laptop/smartphone mestinya beda kualitas suara, tapi siapa yang sempet bikin perbandingan sampe situ? Saya cuman pernah bikin perbandingan, walaupun nggak banyak, antara dua laptop Mac saya, dan antara satu laptop Mac dan satu laptop Windows. Yang pertama bandingin system yang sama, pake laptop Powerbook G4 lama saya, dibandingin Macbook Air saya, yg Powerbook G4 jauh lebih bening. Tapi ya karena itu komputer jadul yang udah terlalu lemot buat kerja, akhir2nya yang saya pake ya Macbook Air. Yang kedua antara laptop Sony VAIO + Foobar dibandingkan Macbook Air + Audirvana (Windows vs OSX), hasilnya Macbook Air lebih bagus. Memang sudah banyak industry experts yang bikin tulisan bahwa OSX secara operating system lebih bagus untuk Audio, tapi ya ini diluar lingkup topik hari ini.

Tapi pada akhirnya sih saya nggak pernah pilih2 hardware laptop/smartphone, pake apa aja yang ada. Pake aja apa yang ada dan optimalkan di bagian software + DAC nya, biasanya sudah cukup bagus kok hasilnya.

Mengenai Digital Audio Player, ini juga ada perbedaan kualitas sebagai transport. Misalnya kita pernah bandingin Ibasso DX50 > Coaxial Out > Chord Hugo dengan Ipod Touch > Cypherlabs Solo dB > Chord Hugo. Hasilnya lebih bagus yang pake Cypherlabs. Jadi hardware matters. Kalau DX50 vs DX90 sebagai transport saya belum pernah bandingkan secara langsung, mungkin kapan2 kita coba.

 

SELINGAN: SEKILAS TENTANG SIGNAL DIGITAL
Perbedaan2 kualitas hardware, software, bahkan kabel untuk sistem digital ini seringkali didebat karena digital kan cuman masalah binary alias kombinasi 0 dan 1? Jadi selama 0 dan 1 nya matching (alias filenya nggak corrupt), mestinya outputnya juga sama. Itu pandangan yang oversimplifying kondisi real world sistem digital sebetulnya.

Jadi memang secara teori itu hanya 0 dan 1, cuman praktek real world nya, waktu signal dikirim lewat kabel USB misalnya, itu bukan angka2 pasti 0 dan 1 yang dikirim, melainkan signal listrik. Jadi 0 dan 1 itu dikirim sebagai voltase, dan voltase ini juga nggak selalu stabil, jadi diperlukan sistem error correction juga. Misalnya saya pernah ngobrol sama engineer Philips (mereka yang menciptakan format CD), dan dia bilang kalo mayoritas track didalam CD itu (kalo gak salah 60%) dipake untuk error correction. Jadi pada prakteknya, sistem digital tetap di transfer secara signal listrik, dan signal listrik ini tetap terpengaruh banyak aspek seperti hardware design, power supply quality, material konduktor, dsb.

REPRODUKSI: TRANSPORT (SOFTWARE)
Software nya ngefek! Saya jarang pake Windows jadi gak bisa kasi rekomendasi pribadi, cuman rata2 anak audio pake Foobar (kalo ga salah WASAPI lebih bagus dari ASIO, sekali lagi, saya jarang banget pake Windows).

Kalau untuk OSX, yang kualitas bagus dan gratis itu Quicktime player, cuman gak bisa bikin playlist dia. Quicktime ini kualitas suaranya mungkin lebih bagus dari rata2 audiophile player software yang dijual komersil. Coba aja sendiri. Yang juga bisa dicoba pake playback Quick Viewnya Finder (ke Finder, pilih file lagu nya, press space bar), ini surprisingly hasilnya bening dan lebih bagus dari Itunes, cuman masih dibawah Quicktime.

Untuk Iphone, saya biasa pake Itunes, belum pernah coba yang lain. Untuk Android, yang saya bisa rekomendasiin, USB Audio Player Pro, hasil playbacknya lebih bagus dari Poweramp, Google Play Music, ama Samsung Audio Player. Blacker background, slightly bigger soundstage, walaupun kita gak pake external DAC (masih pake headphone out dari hape).

Setelah transport, keluar ke kabel digital (kapan2 kita ngobrol kabel digital), lalu ke DAC, lalu ke Ampli, lalu ke Headphone. Untuk yang tiga komponen terakhir ini, rata2 kita boleh setuju kalo kualitas hardware BETUL BETUL PENTING, dan saya yakin kalian juga sudah punya dedicated DAC/Amp + Headphone andalan kalian sendiri.

Rata2 hal-hal yang saya share diatas mengenai file format, transport, software, jarang di diskusikan di Internet karena orang2 yang vokal di web cenderung nggak percaya kalo ada efeknya. Jadi kita juga udah males sharing informasi ke orang2 yang memang udah dari pertama nggak percaya. Kali ini, saya sharing ini karena banyak yang dateng ke toko minta masukan sama saya tentang software, hardware, buat main musik dan mereka betul2 nanya dengan motivasi jujur. Jadi kalo nggak dikasi tau kan kasian. Tapi ya balik lagi ke anda, nggak harus percaya sama info2 diatas karena memang nggak ada scientific paper nya. Cuman kalo yang mau nyobain, silahkan. 🙂