Headphone Grado

Pertama kenal dan mendengar suara Grado gw langsung keracunan akut dengan karakter suara Grado SR60 dan akhirnya tahun 2008 gw ikut merasakan pernah punya Grado SR225. Suara Grado memang ada tempat spesial di kuping gw, karena gw merasa cocok mendengarkan lagu-lagu metal dan rock pakai Grado pada waktu itu.

Dulu belinya lewat forum online. Ketika barangnya sampai dan dibuka, gw cukup terkejut dengan buatannya yang terlihat kasar dan dudukan headbandnya terlihat ringkih sekali. Saat itu gw langsung menghubungi penjualnya dan bertanya-tanya apakah memang seperti ini barangnya. Lucunya sekarang kalo ketemu orang atau teman yang mau membeli atau menanyakan Grado, pasti meragukan buatannya.

Kilas Balik

Oke, Grado memang home industri. Masih asli buatan Amerika, tepatnya di Brooklyn, New York, United States. Sudah 60 tahun berlalu, dari tahun 1953 Joseph Grado (1924-2015) mendirikan pabrik rumahan Grado Labs. Hanya menggunakan informasi dari mulut ke mulut dan minim iklan merupakan strategi bisnis yang dilakukan oleh Joseph Grado pada saat itu. Kini bisnis tersebut diturunkan ke anak cucunya lewat CEO John Grado dan Jonathan Grado sebagai generasi ketiga.

Kalau melihat pabriknya langsung di Brooklyn, gw yakin bakalan menjadi pengalaman seru yang menegaskan kalau Grado memang masih asli buatan tangan. Grado hanya menggunakan mesin untuk mencetak plastik dan kayu untuk housingnya, perakitan sisanya benar-benar masih menggunakan tangan, termasuk lem tradisional untuk housingnya.

Suara Grado

Karakter suara Grado memang punya warna tersendiri, bass impactnya yang deep dan tight, midnya yang jernih, serta highnya cring bening membuat Grado tak tergantikan di kuping pendengarnya.

Waktu elu membeli Grado, berarti elu membayar untuk suaranya, itu kenapa Grado tidak ambil pusing soal design vintage dan terkesan ringkih itu. Mungkin memang rahasia suaranya terletak di design housing open-backnya yang terkenal bocor parah itu. Karena waktu elu mendengarkan Grado, suaranya bakalan bocor keluar tanpa malu-malu, memang tidak sampai keras gimana, tapi setidaknya cukup mengganggu kalau elu pakai di tempat-tempat tertentu.

Walaupun kelemahannya bisa jadi kelebihannya juga, karena dengan design open-back, elu bakal masih bisa denger kalau dipanggil orang, setidaknya ini yang gw rasakan waktu gw pakai Grado buat kerja.

Akhir kata

Walaupun sekarang banyak headphone-headphone baru dengan teknologi baru yang terus bermunculan, adanya Grado tetap tidak bisa tergantikan begitu saja. Sampai saat ini, masih ada saja orang yang langsung keracunan Grado begitu mendengar suaranya, walaupun memang tidak semuanya. Setidaknya adanya Grado di kalangan penggemar audio, khususnya headphone, bisa menjadi salah satu pilihan buat yang ingin memiliki karakter suara yang agak berbeda.

Tonton juga "Mengenal Headphone Grado" di Headfonia Store TV Channel Youtube